Monday, December 02, 2024
My Inner Child
Aku baru teringat beberapa hal di masa kecilku. Setiap hari menunggu bapakku pulang kerja, menanyakan apakah membawa kaset Flash Gordon yg kuidamkan sejak melihatnya di iklan majalah. Tidak pernah bapakku bawa dg berbagai alasan. Bapakku bukan orang pelit, hanya saja mgkn kaset tsb tidak edar di kotaku. Sebetulnya apapun yang kuinginkan asalkan beliau bisa menyiapkannya, akan diberikan.
Setiap hari juga aku menitip pesan pada ibuku agar pakaian seragam TK nanti yg bukan model rok (aku tidak suka pakaian cewe).
Tp tetap seragam TK ku tetap ala cewe.
Aku juga ada daftar barang-barang lain yang sangat kuinginkan tp too good to be true, spt Atari Games. Atau tiket acara Google V yg mampir ke Jakarta. Tp yang seperti itu tidak kupesan krn aku tahu tidak akan dibelikan.
Namun, sejauh yg kuingat adalah Flash Gordon lah yg paling kutunggu. Aku selalu menanti dan menanyakannya. Bapak dengan lembut seolah meyakinkanku bahwa suatu hari aku akan dibawakannya. Aku terus menanti.
Inner child ku adalah mengharap sesuatu dengan berlebihan. Termakan janji kosong. Menanti yang tak pasti. Merasa anxiety dalam menanti.
Dan kini aku sangat mudah kecewa atau wemungkin cm takut kecewa.
Baru kini aku menyadari hubungan semuanya. Aku tak tahu betapa dasyatnya pengaruh inner child. OMG.
Saturday, November 02, 2024
Eksisi Multiple FAM
14.10.24 minggu pagi pulang ke palembang utk ke dokter bedah erwin maulana di rs pusri. Dengan izin sebagian besar kerabat dan istikharah, aku mantap menjalani operasi.
17.10.24 kamis malam mulai opname
18.10.24 jum'at pagi masuk ruang operasi sekitar jam 8, disiapkan sekitar 30 menit trus bangun hampir jam 11.
Di antara semua ketakutanku akan operasi n dampaknya, yg paling mencekamku adalah saat di bius. Satu atau dua minggu sebelum ada mempertimbangkan operasi, aku mimpi terbius dan berjuang untuk bangun. Aku dengan seksama menunggu dan mengikuti petunjuk dari Tuhan hingga akhirnya terbangun dari dunia yg hampa. Aku juga sering terpikir jika terjebak dalam dunia tidur, apa yang akan aku lakukan. Membayangkan senangnya jika aku hapal banyak ayat suci dan tahu banyak hikayat; untuk mengisi kekosongan di alam sana.
Siapa sangka aku begitu cemas sehingga di meja operasi aku merasa ingin buang air kecil, aku kuatkan hati dengan logika apa mungkin segitu perlunya secara sejak,jam 2 malam aku sudah puasa, malah bbrp jam sblmnya aku sudah berhenti makan dan minum. Ibu cemas, ata perawat.
Saat itu aku berbaring melebarkan tangan.
Lampu operasi belum juga hidup. Aku merasa seperti strum kesemutan di lipatan-lipatan tubuh. Kata perawat, itu efek obat anti alergi. Aku tidak ingat apa sempat berdoa, aku hanya kuatir dengan kondisi kebeletku. Entah gimana dan kapan ceritanya aku terpejam, merasa cuma sekejap aku sudah membuka mata ftlagi. Sudah di tempat beda, ada rasa sedikit sakit luka yang sudah di jahit di kedua tempat yg dioperasi. Ah, sepertinya sudah selesai, pikirku. Aku pun di antar ke ruang inap dimana aku melanjutkan tidur untuk bbrp jam kemudian.
Tidak ada ingatan ataupun kisah, boro-boro pengalaman spiritual selama dibius. Hanya saja relativitas waktu sungguh bermain. Sekejap mata kurasakan untuk operasi yang kira-kira lebih dari dua jam.
Mungkinkah kehidupan berakhir seperti itu? Tanpa kita sadari tiba-tiba sudah di alam kubur? Alangkah kaget dan ngerinya ya..
Sepertinya harus dimaknai lebih dalam.
Subscribe to:
Posts (Atom)